Senin, 28 April 2014

Sajak Pagi ini

Pagi ini aku teringat lagi. Tentang kisah yang dulu pernah kita lukis bersama di kanvas sederhana namun begitu indah kurasa.

Setiap waktu yang pernah kita hias dengan senandung tawa,  ataupun tak sengaja tergores sedikit luka didalamnya . Tak apa, meski jalan kita tak selalu seindah  kisah-kisah cinta yang seringkali kita baca bersama, menunggu matahari terbenam di depan telaga.

Kadangkala waktu yang berputar membuatku benci. Mengapa saat indah itu berlalu tanpa mampu kucegah. Aku ingin mengulang kembali keindahan itu, kan ku ulang baris demi baris. Hingga cerita cinta kita menjadi sempurna.

Mentari hari ini mengingatkanku kembali, tentang kisah kita, tentang dirimu. Sosok yang membuatku percaya bahwa malaikat itu ada, bahwa malaikat tak perlu sayap. Bahkan hingga tarikan nafasku yang kesekian kali ini, aku masih tak beranjak juga dari kenangan yang berputar di ingatan.

Senyumanmu, ahh.. mengingatnya saja aku tak sanggup. Senyuman yang  kadang sering kuacuhkan. Kini terasa sangat mengganggu. Indah, namun menyakitkan.
Disaat sendiri seperti ini, kenangan yang kau tanamkan di benakku itu terasa semakin tajam. Menusuk relung hatiku yang terdalam. Disaat seperti ini, suaramu seringkali terdengar lirih, samar namun entah mengapa aku bisa mendengarnya dengan sangat jelas.

Tuhan mungkin saja mengambilmu, namun perasaan ini entah kenapa tak mau terkubur bersama jasadmu yang terbujur kaku. Life must go on, tapi jika aku diberi kesempatan untuk mengulang hidup sekali lagi, aku akan tetap memilihmu.. sampai berapa kalipun.  

Sabtu, 14 September 2013

Bidadari Hati

Aku terdiam sepi, seperti gurun yang merindukan datangnya sang hujan. Seperti daun yang merindukan datangnya butiran embun dipagi hari. Aku terdiam sepi. Ku coba berjalan, namun langkahku tak memiliki arah untuk berpijak. Ada sesuatu yang hampa disini, aku tak tau. Kuikuti arah angin berhembus, namun logika ku melarang,” apakah kau hanya akan mengikuti angin tanpa punya tujuan? Apakah kau hanya akan menjadi sampah yang terbawa arus sungai yang deras tanpa bisa berbuat apa-apa?”. Tapi aku terus berjalan, persetan dengan logika pikirku, aku memang telah menjadi sampah bukan? Aku kembali terdiam, disini. Ditempat dimana hiruk pikuk kota teredam sunyi . Aku tersadar , tempat ini tak asing bagiku, dulu aku pernah merasakan, pernah memiliki tujuan hidup, disini. Ya ,aku dulu pernah bahagia, aku dulu pernah punya sejuta mimpi. Dulu hidupku serasa sempurna, hidupku dulu secerah mentari pagi, bersinar, penuh harapan bahwa hari ini kan berjalan baik. Dulu, ya, itu dulu. Kini pikiranku mulai menampilkan gambaran keindahan hidupku dulu, semuanya berputar di kepalaku, hingga menampilkan secuat wajah, ya aku mengenalnya, aku mulai sadar bahwa dialah alasan kebahagiaan di masa laluku, dialah sang mentari pagi, bahkan lebih, ya dia bidadari hatiku. Air mataku meleleh, aku tak tau, tiba-tiba aku ingin menangis, hatiku bisa merasakan lagi. Dan rasa sakit itu yang membangkitkannya. Kakiku goyah, aku tak bisa menahannya, aku terjatuh. Airmataku masih mengalir, aku menatap sekeliling, pohon itu, bangku di taman, kolam ikan yang airnya jernih. Aku kembali teringat kenangan kita. Dulu kita sering kesini, bermain di dahan pohon tua yang masih kokoh ini, kita berbaring di atas rumput akasia yang hijau dan lembut ini sambil memandangi awan. Aku masih ingat kata-katamu. “ Sayang, kalau kita menikah nanti, kita tak perlu punya rumah yang mewah dan besar, karena walaupun kita tinggal di rumah yang beralaskan tanah dan beratapkan langitpun, asalkan masih bisa melihat senyummu aku sudah bahagia sekali”. Aku pun hanya tersenyum. Airmataku makin mengalir, senyumu, gelak tawamu, hariku seakan tak pernah bosan jika kuhabiskan hanya untukmelihatnya. Aku ingin lagi merasakan itu, aku ingin menikmati iap detik waktu yang kumiliki untuk bersamamu. Aku sadar, dulu aku tak pernah membahagiakanmu, aku terlalu cuek dan tak menanggapimu. Di pohon ini kamu pernah menuliskan namamu dan namaku disini. Kau menanyakan pendapatku, namun aku hanya bilang kalau kau berlebihan. Disini, kamu sering memetik bunga yang tumbuh di sekitar kolam, kemudian kamu selipkan ditelingaku, aku jengkel dan selalu membuangnya, kaupun hanya tertawa renyah sambil mencubit hidungku dan berlari. Tapi hari itu berbeda, kamu menyelipkan lagi bunga itu dan akupun kembali membuangya, tapi kamu malah mengambilnya dan memeluknya sambil menangis, aku tak kau kenapa, dan akupun terlalu cuek untuk menanyakannya, tapi kini aku sadar, bahwa bunga itu adalah bunga terakhir yang kamu selipkan di telingaku. Aku masih menangis, aku berjalan ke pohon itu, aku mengambil batu dan mengukir pohon itu dengan nama kita. maafkan aku sayang, kinikusadar bahwa aku merindukan hadirmu disini, akumembutuhkan keceriaanmu untuk melengkapi hariku yang membosankan. Sayang maafkan lah segala kesalahanku padamu, semoga kau tenang di alam sana dan menjadi bidadari surga, sebagaimana kamu selalu menjadi bidadari hatiku. :’)

Sabtu, 12 November 2011

Perangkap tikus

Sepasang suami dan istri petani pulang kerumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikur memperhatikan dengan seksama sambil menggumam “hmmm…makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar??”
Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus. Sang tikus kaget bukan kepalang.
Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak
” Ada Perangkap Tikus di rumah….di rumah sekarang ada perangkap tikus….”
Ia mendatangi ayam dan berteriak ” ada perangkap tikus”
Sang Ayam berkata ” Tuan Tikus…, Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku”
Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak.
Sang Kambing pun berkata ” Aku turut ber simpati…tapi tidak ada yangbisa aku lakukan”
Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama.
” Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali”
Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular. Sang ular berkata
” Ahhh…Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku”
Akhirnya Sang Tikus kembali kerumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri.
Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa. Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilikrumah. Walaupun sang Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri tidak sempat diselamatkan.
Sang suami harus membawa istrinya kerumah sakit dan kemudian istrinya sudah boleh pulang namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam.
Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam (kaki ayam) oleh suaminya.
(kita semua tau, sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam)
Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya.
Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang temanmenyarankan untuk makan hati kambing.
Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya.
Masih, istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia.
Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman.
Sehingga sang Petani harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat.
Dari kejauhan…Sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan.
Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.
SO…KALAU SUATU HARI..
KETIKA ANDA MENDENGAR SESEORANG DALAM KESULITAN DAN MENGIRA ITU BUKAN URUSAN ANDA…
PIKIRKANLAH SEKALI LAGI!!!!

Ketika aku sudah Tua



Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula.
Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku……
Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu, ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.

Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah
bosan kau dengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku.
Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah
beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tidur.
Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku, jangan marah padaku.
Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara untuk membujukmu
mandi?
Ketika aku tak paham sedikitpun tentang tehnologi dan hal-hal baru,
jangan mengejekku.
Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap “mengapa”
darimu.
Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk
memapahku.
Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.
Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk mengingat.
Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting, asalkan kau
di samping mendengarkan, aku sudah sangat puas.
Ketika kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka.
Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu
mulai belajar menjalani kehidupan.
Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini,
sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku.
Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh
rasa syukur, dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga
untukmu.
Pesan:
Hormati Ayah dan Ibumu sebelum mereka meninggalkan anda dengan kedukaan yang mendalam

Rabu, 02 November 2011

Menangis dan manfaatnya

Bagi kaum Hawa, menangis adalah ekspresi ketika ia tidak lagi dapat menjelaskan perasaannya. Menangis ternyata memiliki efek baik bagi kesehatan. Demikian hasil penelitian terbaru sejumlah ahli dari Universitas Indiana, Amerika Serikat, baru-baru ini.

Penelitian melibatkan 150 pemain sepakbola kampus. Ditemukan, mereka yang mengekspresikan kesedihan dengan tangis usai kalah bertanding memiliki kesehatan mental yang lebih baik.

Tak hanya itu, mereka yang menangis juga memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi, jika dibandingkan yang tidak. Para peneliti juga menemukan mereka yang peduli dengan kondisi mental anggota timnya memiliki tingkat kepuasan hidup yang tinggi.

"Secara keseluruhan, para pemain sepakbola memang memiliki rasa segan untuk menunjukkan perasaan. Ini terkait dengan gender. Namun, mereka yang berusaha terlihat tegar dan lebih ekspresif secara emosional memiliki keunggulan mental, baik di dalam maupun di luar lapangan," kata pimpinan penelitian Jesse Steinfeldt, mengungkapkan.(ANS/Zeenews)

Rabu, 26 Oktober 2011